YOGYAKARTA : SERANTAU MEDIA – Presiden Prabowo Subianto tercatat menyampaikan 166 pidato publik selama dua tahun kepemimpinannya, Oktober 2024 hingga Oktober 2026. Total durasi pidato mencapai 80,6 jam dengan jumlah sekitar 326.800 kata.
Temuan tersebut merupakan hasil kajian Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS), kelompok studi di bawah PolGov Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dirilis pada Senin (26/10/2026). Kajian bertajuk Dua Tahun di Podium itu juga menemukan peningkatan jumlah insiden ucapan yang dinilai tidak pantas serta menguatnya retorika populis dan antagonistik dalam pidato Prabowo.
Berdasarkan kajian tersebut, rata-rata Prabowo menyampaikan 6,6 pidato per bulan atau sekitar 1,6 pidato per minggu. Dari total pidato, sebanyak 76 merupakan pidato kenegaraan, 64 pidato terkait program pemerintah, dan 26 pidato bertema politik dan kemasyarakatan.
Topik yang paling banyak dibahas meliputi energi, BUMN, dan swasembada dengan porsi 14,2 persen; TNI-Polri dan penertiban sebesar 13,4 persen; serta Pancasila, agama, dan kebangsaan sebesar 11,5 persen.
Ucapan tidak pantas meningkat
Salah satu temuan utama kajian EPPOS adalah tercatatnya 311 insiden ucapan yang dinilai tidak pantas dalam 84 dari 166 pidato Prabowo. Jumlah insiden meningkat dari 105 pada tahun pertama menjadi 206 pada tahun kedua.
Peneliti juga menemukan kenaikan insiden berat per pidato, dari rata-rata 0,40 menjadi 0,72. Perubahan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik dengan nilai p = 0,006.
Sebanyak 222 insiden atau 71,4 persen dari keseluruhan temuan terjadi dalam acara kenegaraan dan program pemerintah yang disiarkan melalui kanal resmi.
Kajian itu juga mencatat bahwa 49,8 persen dari seluruh insiden dan 53,6 persen insiden berat menyasar pengkritik serta masyarakat sipil. Sementara itu, 82,6 persen insiden terjadi di luar acara politik-kepartaian.
Dari 311 insiden yang ditemukan, 151 di antaranya dikategorikan sebagai pernyataan yang mendelegitimasi kritik. Sebanyak 107 insiden dalam kategori tersebut terjadi di acara kenegaraan dan program pemerintah.
Durasi pidato bertambah, kepuasan publik menurun
Kajian EPPOS turut menemukan peningkatan durasi pidato dan porsi pidato yang membahas program pemerintah. Durasi pidato yang tercatat naik dari 9,9 jam pada semester pertama menjadi 29,2 jam pada semester keempat.
Jumlah pidato terkait program pemerintah juga meningkat dari tiga pidato per semester menjadi 27 pidato. Porsinya bertambah dari 12 persen menjadi 51 persen.
Pada periode yang sama, rata-rata tingkat kepuasan publik terhadap presiden dalam 29 survei yang dianalisis turun dari 80,5 persen menjadi 58 persen.
EPPOS mencatat perubahan tersebut sebagai kecenderungan yang muncul bersamaan. Temuan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bertambahnya durasi atau pidato program pemerintah menyebabkan penurunan kepuasan publik.
Retorika populis dan antagonistik menguat
Dalam aspek retorika, skor antagonisme dalam pidato Prabowo meningkat dari 0,99 pada tahun pertama menjadi 1,32 pada tahun kedua. Sementara itu, skor populisme naik dari 1,23 menjadi 1,65.
Kedua perubahan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik, masing-masing dengan nilai p = 0,027 dan p = 0,017. Peneliti juga mengidentifikasi 39 kalimat terverifikasi yang mempertentangkan rakyat dengan elite atau pihak lawan.
Kajian Dua Tahun di Podium dilakukan selama dua bulan dengan menganalisis rekaman video pidato Prabowo sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2026. Sumber utama rekaman berasal dari kanal YouTube Sekretariat Presiden dan sejumlah kanal media massa terverifikasi.
Proses penelitian mencakup transkripsi dan pembersihan teks, pengodean serta kategorisasi, dan analisis frekuensi, tren, korelasi, serta penilaian terhadap keseluruhan teks pidato. Proses pengodean melibatkan peneliti secara manual, model kecerdasan buatan, dan pengodean manual menggunakan perangkat lunak R.
Melalui kajian ini, EPPOS berupaya menjadikan pidato presiden sebagai bahan evaluasi publik terhadap pola komunikasi dan praktik kepemimpinan selama dua tahun pertama pemerintahan. (MJ)