• Mon, Nov 2026

Di Antara Kepungan Api dan Panggilan Anak untuk Pulang

Di Antara Kepungan Api dan Panggilan Anak untuk Pulang


PERAWANG : SERANTAU MEDIA – Kobaran api semakin mendekat. Asap tebal mengepung Angga Setiawan bersama rekan-rekannya saat berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepanikan mulai terlihat di wajah anggota tim. Namun, Angga berusaha tetap tenang.

Ia meminta seluruh rekannya tidak panik dan perlahan menjauh dari kobaran api hingga menemukan sebuah kanal. Tanpa banyak pilihan, Angga menginstruksikan anggota tim untuk melompat ke air dan berenang menyelamatkan diri.

Di tengah situasi mencekam itu, terdengar suara perahu cepat atau speedboat mendekat. Rupanya, rekan kerja mereka datang untuk menjemput. Satu per satu anggota tim berhasil diselamatkan.

“Tidak lama kami berenang, kami mendengar suara speedboat. Ternyata rekan kerja saya sudah menjemput kami. Alhamdulillah, kami semua selamat dari kobaran api,” kenang Angga.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu peristiwa paling berat selama 12 tahun dirinya bekerja sebagai petugas pemadam karhutla. Berhadapan dengan api dan ancaman keselamatan sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Namun, ada hal lain yang tak kalah berat: harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu demi menjalankan tugas.

Angga, 32 tahun, merupakan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi, unit usaha APP Group. Ia tinggal di Perawang bersama istri, Dea Tri Oktari (26), dan anak mereka.

Bagi Angga, jarak dengan keluarga kerap menjadi ujian tersendiri, terutama ketika anaknya sedang sakit dan meminta ayahnya segera pulang.

“Berat, terlebih lagi kalau anak sedang demam dan video call menyuruh saya pulang,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti itu, Angga tak selalu bisa memenuhi keinginan anaknya. Tanggung jawab memadamkan api membuatnya harus tetap berada di lokasi penugasan hingga pekerjaan selesai.

Di rumah, Dea menjadi sosok yang menguatkan keluarga. Ia mendampingi anak mereka, termasuk ketika sakit dan merindukan kehadiran sang ayah. Dea pula yang berusaha menenangkan anak saat Angga belum bisa pulang.

“Untung saja istri saya sangat mendukung. Istri saya mencoba menenangkan anak ketika anak meminta saya pulang,” kata Angga.

Dukungan sang istri menjadi kekuatan bagi Angga untuk bertahan. Di tengah lelah dan kerinduan, ia selalu mengingat tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ia juga meyakini pekerjaannya memiliki manfaat besar bagi masyarakat.

“Ditambah lagi, pekerjaan ini sangat mulia, menyelamatkan orang banyak supaya tidak terjadi kabut asap,” tuturnya.

Namun, pengorbanan waktu bersama keluarga bukan cerita baru bagi Angga. Bahkan, sejak awal pernikahan, ia sudah harus merelakan momen-momen yang semestinya menjadi kenangan indah bersama istrinya.

Saat usia pernikahan mereka baru empat bulan, Angga dan Dea telah menyiapkan baju Lebaran bersama. Pada bulan puasa itu, keduanya menjahit pakaian untuk dikenakan pada hari raya pertama sebagai pasangan suami istri.

Sayangnya, dua hari menjelang Lebaran, Angga mendapat tugas memadamkan api. Ia pun harus meninggalkan rencana merayakan hari raya bersama Dea.

“Saya melewatkan momen yang saya tunggu bersama istri saya,” ungkapnya.

Baju Lebaran yang telah mereka siapkan akhirnya baru bisa dikenakan bersama pada Lebaran kelima.

Kini, setelah memiliki anak, kerinduan Angga kepada keluarga semakin terasa setiap kali harus menjalani penugasan berminggu-minggu. Karena itu, setiap kali kembali ke rumah, ia berusaha memanfaatkan waktu libur untuk menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.

Mengajak keluarga berjalan-jalan menjadi salah satu cara sederhana bagi Angga untuk membayar waktu yang hilang. Baginya, kebersamaan itu sangat berarti setelah sekian lama terpisah oleh tugas.

“Itulah bentuk melepas kerinduan saya,” ujarnya.

Di tengah risiko pekerjaan yang sewaktu-waktu mengancam nyawa, Angga tetap menjalankan tugasnya. Ada api yang harus dipadamkan, masyarakat yang perlu dilindungi, dan keluarga yang selalu menanti kepulangannya.***