• Mon, Nov 2026

Plt Gubri Sebut Konektivitas dan Kelestarian Sungai Kuantan Kunci Masa Depan Pacu Jalur

Plt Gubri Sebut Konektivitas dan Kelestarian Sungai Kuantan Kunci Masa Depan Pacu Jalur


KUANTAN SINGINGI : SERANTAU MEDIA - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto menegaskan, kemajuan pariwisata Pacu Jalur di Kuantan Singingi harus dibarengi dengan perbaikan konektivitas dan penjagaan kelestarian Sungai Kuantan.

Hal itu disampaikannya saat pembukaan rangkaian Festival Pacu Jalur di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Rabu (19/8/2026).

SF Hariyanto menyebut akses menuju Kuantan Singingi harus terus ditingkatkan. Ia bersyukur tahun ini Riau mendapat dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum untuk perbaikan jalan nasional menuju daerah tersebut.

“Untuk itu, akses menuju Kuantan Singingi juga harus semakin baik. Alhamdulillah, tahun ini kita mendapatkan dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum untuk perbaikan jalan nasional menuju Kuantan Singingi,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia bersama Wakil Gubernur Sumatera Barat juga telah mengusulkan pembangunan feeder yang dapat menghubungkan Kuantan Singingi dengan trase Jalan Tol Trans Sumatera.

“Kita terus perjuangkan ini agar Kuantan Singingi semakin mudah diakses, baik dari Riau maupun Sumatera Barat. Karena kalau konektivitas semakin baik, pariwisata bergerak, distribusi semakin lancar, investasi terbuka, dan ekonomi masyarakat ikut tumbuh,” kata SF Hariyanto.

Selain infrastruktur, Plt Gubri menekankan pentingnya menjaga Sungai Kuantan sebagai jantung dari tradisi Pacu Jalur. Menurutnya, tidak mungkin membicarakan masa depan Pacu Jalur tanpa menjaga masa depan sungai tersebut.

“Kita tidak mungkin berbicara tentang masa depan Pacu Jalur tanpa menjaga masa depan Sungai Kuantan. Sungai ini adalah gelanggang Pacu Jalur dan bagian dari kehidupan masyarakat,” ucapnya.

Ia mengapresiasi langkah Kapolda Riau, Kapolres Kuantan Singingi, TNI, Pemerintah Daerah dan masyarakat yang terus melakukan penertiban aktivitas pertambangan tanpa izin serta menjaga kebersihan Sungai Kuantan.

“Namun menjaga sungai bukan hanya tugas kepolisian dan pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama. Jangan sampai Pacu Jalurnya kita banggakan, tetapi sungai tempat tradisi ini lahir justru kita biarkan rusak,” tegasnya.

Dengan konektivitas yang semakin baik dan Sungai Kuantan yang terjaga, SF Hariyanto berharap Pacu Jalur dapat menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat Kuantan Singingi sekaligus ikon budaya Riau yang mendunia.

Secara historis, tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi telah ada dan berkembang di tengah masyarakat lokal sejak abad ke-17. Pada masa kolonial Belanda, perhelatan ini sempat dimanfaatkan sebagai ajang perayaan hari lahir Ratu Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.

Pada masa tersebut, para pemenang perlombaan mendapatkan hadiah berupa bendera berukuran besar yang dihiasi nomor jalur atau dikenal dengan sebutan tonggol. Kegiatan tradisi ini kemudian sempat terhenti total pada masa pendudukan Jepang akibat lumpuhnya kondisi perekonomian masyarakat.

Tradisi Pacu Jalur kembali dibangkitkan oleh masyarakat setempat pada tahun 1950 guna melestarikan nilai-nilai kebudayaan daerah. Pada periode tahun 1951 hingga 1952, muatan perahu berkembang dari kapasitas 7–15 orang hingga akhirnya menggunakan jalur berkapasitas 25 orang lebih.

Sejak saat itu, pelaksanaan Pacu Jalur dialihkan menjadi bagian utama dari perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Hadiah perlombaan pun berkembang menjadi ternak berupa kerbau atau sapi serta piala bergilir bagi tim pemenang.

Puncak perhelatan Pacu Jalur tingkat nasional dipusatkan di arena Tepian Narosa, Kecamatan Kuantan Tengah, yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Pekanbaru. Seluruh perahu yang bertanding di tingkat kabupaten ini merupakan hasil seleksi dari ajang perlombaan di tingkat rayon dan kecamatan.

Selain menyaksikan perlombaan perahu di sungai, para pengunjung juga disuguhkan berbagai agenda pendukung seperti pekan raya dan pementasan seni daerah. Berbagai seni pertunjukan tradisional seperti Randai Kuantan Singingi dan tarian khas Riau turut dimeriahkan selama festival berlangsung.(Adv/red)