• Wed, Jul 2026

Menjaga Hutan, Memanen Madu: Harmoni Peternak Lebah di HTI Akasia Arara Abadi

Menjaga Hutan, Memanen Madu: Harmoni Peternak Lebah di HTI Akasia Arara Abadi


SIAK, SERANTAU MEDIA   - Dengungan ribuan lebah memecah keheningan hutan tanaman industri (HTI) akasia di Distrik Rasau Kuning, Minas, Kabupaten Siak. Di antara deretan kotak-kotak kayu yang tersusun rapi, jutaan lebah Apis mellifera hilir mudik keluar masuk sarang, membawa nektar dari bunga akasia yang sedang bermekaran.

Di balik aktivitas serangga kecil itu, Bambang Sugeng berdiri mengamati setiap koloni. Sesekali ia membuka kotak sarang untuk memastikan ratu lebah tetap produktif dan sisiran madu terisi sempurna. 

Bagi sebagian orang, tempat itu hanyalah peternakan lebah. Namun bagi Bambang, hamparan akasia tersebut adalah saksi perjalanan bangkitnya kehidupan setelah pandemi menghancurkan usaha yang selama bertahun-tahun menjadi sumber nafkah keluarganya.

Pria asal Perawang itu kini dikenal sebagai pemilik Madu Legit Nusantara, sekaligus menjadi salah satu pelopor budidaya lebah madu binaan PT Arara Abadi-APP Group. Sulit membayangkan, beberapa tahun lalu ia sama sekali tidak mengenal dunia perlebahan.

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik hidupnya. Usaha servis elektronik yang ia jalankan bertahun-tahun nyaris berhenti total akibat pembatasan aktivitas masyarakat. Penghasilan menghilang, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan.

"Saya dulu servis elektronik di Perawang. Saat pandemi usaha bangkrut karena aktivitas masyarakat dibatasi," kenang Bambang saat ditemui baru-baru ini.

Ia sempat mencoba peruntungan dengan membudidayakan ikan. Namun usaha itu pun tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Di saat bersamaan, permintaan madu melonjak tajam. Banyak masyarakat mencari madu untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Ironisnya, pasokan madu sialang justru langka.

Situasi itulah yang membuat Bambang melihat peluang baru. Bersama beberapa rekannya, ia mencari informasi hingga mengetahui adanya peternakan lebah modern di Kecamatan Danau Lamo, Kabupaten Muaro Jambi.

Perjalanan studi banding itu mengubah cara pandangnya. Di sana ia melihat sekitar 150 kotak lebah mampu menghasilkan lebih dari satu ton madu setiap bulan. Angka yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

"Dari situ saya yakin usaha ini punya masa depan," ujarnya.

Sekembalinya ke Riau pada 2020, Bambang mulai merintis peternakan lebah secara sederhana. Karena belum memiliki akses ke kawasan hutan akasia, koloni lebah ditempatkan di lahan milik masyarakat di Kecamatan Dayun.

Kesempatan besar datang ketika sejumlah peternak memutuskan berhenti berusaha. Bambang memberanikan diri mengambil alih sekitar 280 kotak lebah dengan nilai investasi mencapai Rp80 juta.

Keputusan itu penuh risiko. Sebagian besar kotak dalam kondisi rusak. Koloni lebah pun melemah karena lama tidak dirawat.

Empat bulan pertama hanya sekitar 100 kilogram madu yang berhasil dipanen. Namun Bambang tidak menyerah.

Perawatan rutin perlahan memulihkan koloni. Produksi meningkat menjadi 200 kilogram, kemudian 350 kilogram per bulan. Seiring membaiknya kondisi sarang, setiap kotak mulai dipenuhi enam hingga tujuh sisiran madu.

Titik terang datang pada 2021 ketika PT Arara Abadi memberikan akses kepada kelompok peternak untuk memanfaatkan kawasan tanaman akasia melalui skema kemitraan.

Bagi Bambang, kawasan akasia bukan sekadar tempat memelihara lebah, melainkan "ladang" yang menyediakan sumber pakan melimpah.

Setiap kotak lebah berisi sekitar 10 sisir dengan populasi lebih dari 5.000 ekor. Dari lubang kecil di bagian depan kotak, ribuan lebah pekerja terbang hingga radius sekitar tiga kilometer untuk mengumpulkan nektar bunga akasia.

"Lebah ini sangat bergantung pada nektar akasia. Kalau tidak ada nektar, perkembangan koloninya tidak akan maksimal," katanya.

Ketika tanaman akasia dipanen, para peternak memindahkan seluruh koloni menuju blok tanaman lain yang sudah memasuki masa berbunga. Mobilitas itu menjadi bagian dari rutinitas mereka agar produksi madu tetap terjaga.

Kemitraan dengan perusahaan tidak hanya memberikan akses terhadap sumber nektar, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab baru.

Melalui nota kesepahaman, para peternak bergabung sebagai Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka ikut memantau kawasan setiap hari, melaporkan potensi kebakaran hutan maupun aktivitas mencurigakan di sekitar areal konsesi.

"Kami setiap hari memberikan laporan kondisi di lapangan, apakah aman dari kebakaran atau ada hal-hal yang mencurigakan," ujar Bambang.

Hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 23 kelompok peternak bergabung dengan total sekitar 7.000 kotak lebah di Distrik Minas Rasau Kuning. Dalam kondisi produksi yang belum maksimal sekalipun, seluruh kelompok mampu menghasilkan sekitar 10 ton madu setiap bulan.

Masing-masing peternak telah memiliki jaringan pemasaran sendiri. Sebagian menjual langsung kepada konsumen, sementara lainnya memasok madu kepada pengepul.

Bambang memilih fokus mengembangkan koloni. "Kalau dijual sendiri memang harganya lebih tinggi. Tapi saya lebih konsentrasi mengembangkan lebah, jadi hasil panen langsung diambil pengepul," katanya.

Di peternakannya sendiri, sekitar 300 kotak lebah mampu menghasilkan rata-rata 500 kilogram madu setiap bulan. Selain madu, ia juga memperbanyak koloni dengan teknik pemecahan sarang. Dalam dua tahun terakhir, ia berhasil menambah sekitar 120 kotak lebah baru.

Meski terlihat menjanjikan, beternak lebah bukan tanpa tantangan. Musuh terbesar justru bukan penyakit, melainkan burung pemakan lebah.bDalam sekali datang, burung itu dapat memangsa puluhan lebah pekerja sehingga mengurangi kemampuan koloni mencari nektar.

Belum lagi ancaman beruang yang kerap merusak kotak untuk mencari madu, beruk yang membongkar sarang, hingga kutu dan jamur yang harus dikendalikan secara rutin.

Di balik semua tantangan itu, Bambang percaya usaha yang ia bangun bukan sekadar menghasilkan madu. Ia melihat budidaya lebah telah membuka lapangan pekerjaan baru, menghadirkan sumber penghasilan bagi puluhan keluarga, sekaligus membuktikan bahwa hutan yang dikelola secara berkelanjutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus ditebang atau dibakar.
 

Forest Protection Head Minas PT Arara Abadi-APP Group, Aep Mahmudin mengatakan, pengembangan budidaya lebah menjadi bagian dari program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang sebelumnya dikenal sebagai Desa Makmur Peduli Api.

Menurutnya, perusahaan membuka kesempatan bagi kelompok peternak dari Perawang, Pekanbaru hingga berbagai daerah di Riau untuk memanfaatkan potensi hasil hutan bukan kayu.

"Semua kelompok yang bergabung tetap mengikuti aturan perusahaan, terutama komitmen untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mereka juga menjadi mitra yang membantu memberikan informasi apabila ada potensi gangguan keamanan kawasan," ujar Aep.

Ia menjelaskan, peternak dapat memanfaatkan kawasan tanaman akasia berusia lebih dari satu tahun sehingga tidak mengganggu operasional perusahaan. Ketika akasia memasuki masa panen, lokasi budidaya akan dipindahkan mengikuti tanaman yang lebih muda dan sedang menghasilkan nektar.

Bagi perusahaan, pola tersebut menjadi contoh bahwa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.***