• Tue, May 2026

Dari Dapur Kampung ke Expo Internasional: Jejak UMK Kampar Menembus Batas

Dari Dapur Kampung ke Expo Internasional: Jejak UMK Kampar Menembus Batas


BATAM, SERANTAU MEDIA - Di lantai ramai Mega Mall Batam Centre, langkah pengunjung seolah tertahan di satu titik. Bukan karena panggung besar atau dekorasi mencolok, melainkan sebuah stan sederhana yang memancarkan aroma khas: gurihnya ikan patin, hangatnya jahe merah, dan sentuhan tradisi dari kain batik yang tergantung rapi.

Di sanalah Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMK Kabupaten Kampar membuka ruang kecil yang justru terasa hidup. Dalam gelaran IndoVEC Expo 2026, stan Kampar tak pernah benar-benar sepi. Sejak hari pertama, pengunjung datang silih berganti—sebagian tertarik oleh aroma, sebagian lagi sudah mengenal reputasi produk-produk dari tanah Kampar.

Di atas meja, produk-produk itu tak sekadar dipajang. Abon patin, kerupuk kulit patin, olahan kelor, jahe merah, hingga singkong panggang dan salai podeh seperti “hidup” ketika berpindah dari tangan penjual ke tangan pembeli. Beberapa bahkan ludes sebelum hari pertama berakhir—sebuah tanda bahwa yang ditawarkan bukan hanya rasa, tetapi juga cerita.

Di balik keramaian itu, tersimpan pengalaman yang tak mudah dilupakan bagi para pelaku UMK. Untuk pertama kalinya, mereka melihat produk rumahan mereka dicicipi oleh orang-orang dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara. Bahasa mungkin berbeda, tapi ekspresi puas setelah mencicipi menjadi bahasa yang sama.

Ada pula momen yang lebih sunyi, namun terasa hangat. Sejumlah perantau asal Kampar datang mendekat, menatap produk-produk itu dengan mata berbinar. Bagi mereka, stan itu bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan jembatan kecil menuju kampung halaman—rasa yang lama tak dijumpai.

Perjalanan itu mencapai puncaknya ketika Kampar diumumkan sebagai peraih Stand Terbaik Kedua. Sebuah penghargaan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna besar bagi mereka yang terlibat.

Kepala dinas terkait, Syarifuddin, menyebut capaian itu sebagai energi baru. Bukan sekadar prestasi, melainkan dorongan agar pelaku UMK terus melangkah lebih jauh—naik kelas dan berani bersaing di pasar yang lebih luas.

Namun, lebih dari sekadar piala, kehadiran Kampar di Batam meninggalkan jejak yang lebih dalam. Tentang bagaimana produk-produk rumahan bisa melintasi batas daerah, menemukan pasar baru, dan perlahan membuka jalan menuju panggung yang lebih besar.

Di tengah hiruk pikuk Batam, Kampar tidak hanya pulang dengan penghargaan. Mereka membawa pulang sesuatu yang tak kasatmata, namun jauh lebih berharga: perhatian, peluang, dan kepercayaan diri yang tumbuh dari sebuah stan sederhana yang tak pernah benar-benar sepi. (mcr/red)