• Thu, Oct 2026

Di Garis Api, Rasman Bertaruh Nyawa; di Rumah, Keluarga Menunggu

Di Garis Api, Rasman Bertaruh Nyawa; di Rumah, Keluarga Menunggu


ROKAN HILIR : SERANTAU MEDIA – Arah angin berubah tiba-tiba. Asap tebal yang semula menjauh mendadak bergerak ke arah lokasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Jarak pandang menyusut. Situasi yang beberapa saat sebelumnya masih terkendali berubah menjadi ancaman bagi para petugas.

Di tengah kepungan asap, Rasman segera berlari mengejar rekan-rekannya. Ia berteriak memperingatkan mereka agar segera meninggalkan lokasi dan menyelamatkan diri.

“Saya dan tim terkepung asap tebal karena perubahan arah angin. Demi keselamatan, saya segera berlari mengejar kawan-kawan sambil berteriak agar segera menyelamatkan diri,” tutur Rasman.

Peristiwa itu masih membekas dalam ingatan pria berusia 35 tahun tersebut. Lebih dari satu dekade bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan membuatnya terbiasa menghadapi situasi sulit. Namun, pengalaman panjang tidak serta-merta menghilangkan risiko yang bisa muncul sewaktu-waktu di lapangan.

Rasman bergabung sebagai anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi, salah satu unit usaha APP Group di Riau, sejak 2013. Dalam perjalanan kariernya, ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari Tim Reaksi Cepat (TRC), yang dituntut siap menghadapi penugasan ketika kebakaran terjadi.

1001653551.jpg

Baginya, setiap kebakaran memiliki tantangan berbeda. Arah angin, cuaca, kondisi medan, hingga ketebalan asap dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, kewaspadaan dan koordinasi menjadi bagian penting dari pekerjaan.

Memadamkan api bukan sekadar mengarahkan air ke titik kebakaran. Petugas juga harus membaca perubahan situasi, mengenali potensi bahaya, dan memastikan seluruh anggota tim tetap aman.

Pengalaman di Rokan Hilir mengajarkan Rasman bahwa dalam situasi darurat, keputusan harus diambil dengan cepat. Ketika asap mulai mengepung, menyelamatkan diri dan rekan-rekan menjadi prioritas.

Bagi Rasman, keberhasilan pemadaman bukan hanya tentang seberapa cepat api dapat dikendalikan. Ada hal lain yang tak kalah penting: seluruh petugas harus bisa meninggalkan lokasi dengan selamat.

Di balik tugas, ada keluarga yang menunggu

Risiko pekerjaan Rasman tidak berhenti ketika ia meninggalkan rumah untuk bertugas. Di tempat lain, ada istrinya, Siti Nuraminah (35), dan anak-anak mereka yang menunggu kepulangannya.

Nuraminah sudah mengetahui pekerjaan suaminya sebagai petugas pemadam kebakaran sejak sebelum mereka menikah. Ia memahami bahwa tugas tersebut bisa datang sewaktu-waktu dan terkadang mengharuskan Rasman berada jauh dari keluarga dalam waktu lama.

Meski memahami konsekuensinya, rasa khawatir tetap ada. Terlebih ketika Rasman bertugas di lokasi yang sulit dijangkau jaringan telekomunikasi. Dalam kondisi seperti itu, komunikasi menjadi terbatas, sementara keluarga di rumah tidak selalu bisa mengetahui keadaan petugas secara langsung.

Pernah suatu ketika Rasman harus berangkat mendadak untuk menjalankan tugas pemadaman. Saat itu, anak-anak mereka masih kecil dan membutuhkan perhatian orang tua. Untuk sementara, Nuraminah tinggal bersama anak-anak di rumah orang tuanya di Muara Pajar, Pekanbaru, agar mendapat dukungan keluarga selama suaminya bertugas.

Ada masa ketika ia harus mengurus anak-anak dan rumah tangga sendiri karena Rasman belum bisa pulang. Bagi Nuraminah, keadaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang harus dijalani dengan pengertian dan kesiapan.

Namun, di balik kekhawatiran itu, tersimpan kebanggaan terhadap pekerjaan suaminya. Ia memahami bahwa upaya memadamkan karhutla bukan hanya tanggung jawab pekerjaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang berisiko terdampak kebakaran dan kabut asap.

“Bagi saya, itu adalah bagian dari ibadah, karena memadamkan karhutla agar tidak menimbulkan kabut asap adalah bagian dari ibadah,” kata Nuraminah.

Berharap selalu pulang dengan selamat

Menjadi anggota Tim Reaksi Cepat berarti Rasman harus siap menghadapi penugasan kapan saja. Lokasi kebakaran tidak selalu mudah dijangkau. Penanganannya pun dapat berlangsung berhari-hari, bergantung pada kondisi di lapangan.

Dalam keadaan seperti itu, keluarga harus siap menghadapi ketidakpastian. Ada kalanya komunikasi terputus, sementara pekerjaan belum memungkinkan Rasman meninggalkan lokasi.

Dukungan Nuraminah menjadi bagian penting dalam perjalanan tugas suaminya. Ia memahami tanggung jawab yang diemban Rasman, meski tetap menyimpan harapan sederhana agar setiap penugasan berakhir dengan baik.

Bagi Rasman sendiri, pengalaman lebih dari 13 tahun bekerja di lapangan telah mengajarkannya arti tanggung jawab dan pentingnya saling menjaga. Rekan-rekan yang bekerja bersamanya bukan sekadar teman satu regu, melainkan orang-orang yang keselamatannya juga harus diperhatikan.

Peristiwa saat asap mengepung di Rokan Hilir menjadi pengingat bahwa bahaya dapat datang tanpa banyak waktu untuk bersiap. Dalam kondisi seperti itu, kewaspadaan dan kepedulian terhadap sesama bisa menjadi penentu keselamatan.

Api yang berhasil dipadamkan memang menjadi bagian dari tugas Rasman. Namun, di balik setiap penugasan, ada tujuan yang lebih personal: memastikan rekan-rekannya selamat dan dirinya bisa kembali ke rumah, berkumpul bersama istri dan anak-anak yang menanti kepulangannya.***