NATUNA : SERANTAU MEDIA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), belum sepenuhnya teratasi. Hujan yang turun di sejumlah wilayah memang membantu menekan titik panas, tetapi belum mampu memadamkan seluruh bara di area yang terbakar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Natuna Raja Darmika mengatakan, kondisi karhutla masih pasang surut. Hujan ringan hingga sedang yang sesekali mengguyur belum cukup membasahi lahan secara menyeluruh.
Akibatnya, bara yang masih tersimpan di dalam lapisan tanah berpotensi kembali menyala, terutama ketika angin kencang bertiup.
BPBD Natuna terus menyiagakan personel untuk melakukan pemadaman, pemantauan dan survei lokasi. Petugas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran meluas.
Namun, penanganan di lapangan terkendala keterbatasan peralatan. Petugas harus menggunakan cara manual untuk menjangkau bara yang berada di luar jangkauan selang air.
Beberapa metode yang dilakukan antara lain membuat lubang untuk menampung bara kemudian menimbunnya dengan tanah, memukul bara menggunakan kayu, hingga menggunakan blower untuk membantu menghentikan proses pembakaran.
"Letih betul memang, tapi apa boleh buat kita tak cukup alat. Selang air kita tidak bisa menjangkau jauh ke area api. Selang kita panjangnya cuma 150 meter, sementara zona api mencapai 300 meter lebih jauhnya," ujar Raja saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026) seperti dikutip dari media indonesia.
Menurut Raja, metode manual cukup membantu menghambat penyebaran api dan menangani bara yang berpotensi kembali menyala. Namun, cara tersebut membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar karena luas lahan yang terdampak mencapai ratusan hektare.
"Kawasan kebakaran hutan kita sampai ratusan hektare dan baranya banyak betul. Kita mau tanam (timbun) satu-satu lambat dan capek juga," katanya.
BPBD Natuna hingga kini masih menyiagakan personel dan peralatan di sejumlah lokasi terdampak. Pemadaman dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan api tidak merembet ke wilayah lain.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di Natuna membutuhkan kewaspadaan tinggi, terutama karena bara di dalam tanah masih dapat memicu kebakaran kembali meski permukaan lahan telah terlihat padam.***