SIAK, SERANTAU MEDIA - Langit mulai meredup ketika Santi (22) menyelesaikan pekerjaan rumahnya di tepian Sungai Metas, Kamis (11/6/2026) petang. Di pelantar kayu sederhana yang berdiri di depan bedeng tempat tinggalnya di Dusun Mungkal, Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, perempuan muda itu mencuci pakaian seperti hari-hari sebelumnya.
Tak ada yang berbeda sore itu. Air sungai mengalir tenang. Angin berembus pelan di antara hamparan kebun sagu yang mengelilingi kawasan tersebut. Di tempat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, Santi menjalani rutinitas yang begitu biasa.
Namun, senja itu menjadi senja terakhirnya. Dalam hitungan detik, ketenangan berubah menjadi kepanikan. Seekor buaya muara muncul dari permukaan Sungai Metas dan menyerang Santi yang berada di tepi pelantar. Serangan mendadak itu membuat warga sekitar tak sempat memberikan pertolongan.
Jeritan histeris memecah kesunyian dusun kecil di tepian sungai. Warga berlarian menuju lokasi, sementara kabar duka mulai menyebar dari rumah ke rumah.
Bagi Kolet (32), suami korban, petang itu menjadi awal dari kenyataan pahit yang tak pernah dibayangkannya. Perempuan yang selama ini mendampinginya menjalani kehidupan sederhana di kawasan rawa dan sungai itu mendadak hilang dari pandangannya.
Malam pun turun. Di tengah gelapnya Sungai Metas, warga bersama aparat dan keluarga melakukan pencarian. Harapan masih tersisa meski kecemasan terus membayangi.
Pencarian berlangsung berjam-jam. Lampu senter dan perahu warga menyisir aliran sungai yang mulai diselimuti kegelapan. Setiap gerakan di permukaan air menjadi perhatian. Setiap informasi yang muncul menghadirkan secercah harapan.
Namun takdir berkata lain.nBeberapa jam kemudian, jasad Santi ditemukan sekitar 200 meter dari lokasi awal kejadian. Ia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
“Alhamdulillah korban sudah ditemukan tadi malam. Korban ditemukan sekitar 200 meter dari titik kejadian,” kata Camat Sungai Apit, Tengku Muhtasar, Jumat (12/6/2026).
Kabar tersebut mengakhiri pencarian, namun sekaligus membuka lembaran duka yang panjang bagi keluarga.
Di lingkungan komunitas Anak Suku Akit Anak Rawa, kepergian Santi meninggalkan kesedihan mendalam. Perempuan muda itu dikenal sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan keluarga. Kehadirannya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kecil yang menggantungkan hidup pada alam di sekitar Sungai Metas.
Kini, pelantar kayu tempat Santi terakhir terlihat kembali sunyi. Hanya suara air sungai yang sesekali terdengar memecah keheningan.
Peristiwa tragis itu kembali mengingatkan warga akan risiko hidup berdampingan dengan satwa liar di kawasan pesisir dan rawa Sungai Metas.
Meski sungai menjadi sumber kehidupan, di balik permukaannya tersimpan ancaman yang sewaktu-waktu dapat muncul.
Pemerintah Kecamatan Sungai Apit menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai.
“Kami turut berduka atas musibah yang dialami keluarga korban. Kami mengimbau warga untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan kondisi sekitar saat beraktivitas di tepi sungai,” ujar Tengku Muhtasar.
Bagi warga Dusun Mungkal, Kamis petang itu akan selalu dikenang sebagai hari ketika Sungai Metas merenggut satu nyawa. Sementara bagi Kolet, senja 11 Juni 2026 akan menjadi kenangan yang tak pernah mudah dilupakan—senja ketika ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada perempuan yang dicintainya untuk selama-lamanya.***
Foto ilustrasi
-
-
Senja Terakhir Santi di Tepian Sungai Metas, Buaya Ganas Merenggutnya dari Keluarga
12 Jun, 2026 12 views -
-
Kurang dari 24 Jam, Polisi Tangkap Tiga Pelaku Jambret iPhone Mahasiswi di Batam
12 Jun, 2026 22 views -
Digelar Pekan Depan, Job Fair HUT ke-242 Pekanbaru Tawarkan 1.289 Lowongan Kerja
12 Jun, 2026 19 views
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy