• Thu, May 2026

Tren Migrasi Penduduk di Riau Berubah, Kampar dan Siak Kian Diminati

Tren Migrasi Penduduk di Riau Berubah, Kampar dan Siak Kian Diminati


PEKANBARU : SERANTAU MEDIA — Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat dinamika mobilitas penduduk antarwilayah di Provinsi Riau semakin beragam berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, Rabu (6/5), mengatakan migrasi seumur hidup menjadi indikator utama untuk melihat pergerakan penduduk dalam jangka panjang.

“Migrasi seumur hidup didefinisikan sebagai perbedaan antara kabupaten/kota tempat tinggal saat survei dengan tempat lahir,” katanya.

Berdasarkan data SUPAS 2025, Kabupaten Siak menjadi daerah dengan persentase migrasi masuk seumur hidup tertinggi di Riau, yakni 44,01 persen. Posisi berikutnya ditempati Kampar sebesar 43,66 persen dan Pekanbaru 42,02 persen.

Pelalawan juga mencatat angka migrasi masuk cukup tinggi sebesar 39,32 persen, diikuti Dumai 37,49 persen, Rokan Hulu 36,29 persen, dan Rokan Hilir 35,69 persen.

Sementara itu, Indragiri Hulu mencatat migrasi masuk 27,94 persen, Bengkalis 27,83 persen, dan Kuantan Singingi 21,51 persen.

Sebaliknya, Indragiri Hilir dan Kepulauan Meranti menjadi daerah dengan migrasi masuk terendah, masing-masing 9,80 persen dan 7,62 persen.

BPS juga mencatat arus migrasi keluar seumur hidup cukup tinggi terjadi di Kepulauan Meranti sebesar 21,38 persen, Bengkalis 16,80 persen, dan Indragiri Hilir 14,31 persen.

Selain migrasi seumur hidup, BPS menilai indikator migrasi risen atau perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir menunjukkan perubahan pola mobilitas yang cukup signifikan.

Kampar tercatat sebagai daerah dengan migrasi masuk risen tertinggi sebesar 9,44 persen dan migrasi keluar hanya 2,12 persen.

“Ini menunjukkan daya tarik Kampar yang semakin kuat,” ujar Asep.

Siak mencatat migrasi masuk risen 4,49 persen dan keluar 2,25 persen. Indragiri Hulu juga menunjukkan tren positif dengan migrasi masuk 3,59 persen dan keluar 2,30 persen.

Rokan Hulu mencatat migrasi masuk 3,34 persen dan keluar 2,71 persen, Pelalawan 3,05 persen dan 2,31 persen, serta Rokan Hilir 2,83 persen dan 2,28 persen.

Di sisi lain, Pekanbaru justru mengalami migrasi keluar risen tertinggi sebesar 12,69 persen, sementara migrasi masuk hanya 4,28 persen.

“Pekanbaru menjadi daerah dengan migrasi risen neto terendah, yaitu minus 8,41 persen,” kata Asep.

Fenomena daerah pelepas penduduk juga terjadi di Bengkalis dengan migrasi masuk 1,93 persen dan keluar 2,81 persen, Kuantan Singingi masuk 2,07 persen dan keluar 2,66 persen, serta Indragiri Hilir masuk 1,00 persen dan keluar 2,49 persen.

Kampar tercatat sebagai daerah dengan migrasi risen neto tertinggi sebesar 7,33 persen, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di Riau.

Menurut Asep, perubahan pola migrasi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun arah pembangunan.

“Wilayah dengan arus masuk tinggi perlu menyiapkan infrastruktur dan layanan dasar, sementara daerah dengan arus keluar tinggi perlu memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak terus kehilangan penduduk,” ujarnya. (mcr/red)