TANJUNGPINANG : SERANTAU MEDIA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan 90 persen peserta pelatihan vokasi dapat terserap pasar kerja. Sementara 10 persen lainnya diharapkan mampu menjadi wirausaha dengan membuka usaha mandiri.
Kepala Disnakertrans Kepri Diky Wijaya mengatakan, target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menekan angka pengangguran melalui peningkatan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja lokal.
"Jika dalam setahun ada 2.000 calon tenaga kerja mengikuti pelatihan vokasi, target kita 1.800 orang bisa terserap pasar kerja," kata Diky di Tanjungpinang, Jumat.
Ia menyebutkan, tingkat pengangguran di Kepri saat ini mencapai 6,40 persen atau sekitar 75 ribu orang dari total 1,2 juta angkatan kerja. Jumlah pengangguran tersebut paling banyak berada di Kota Batam.
Untuk meningkatkan peluang kerja, Disnakertrans Kepri terus mengembangkan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah sektor industri, termasuk pelatihan pengelasan (welder) untuk pekerjaan perakitan dan perbaikan pintu lipat besi (folding gate). Pelatihan ini disiapkan seiring berkembangnya investasi industri, khususnya sektor galangan kapal di Batam.
Selain itu, pelatihan juga mencakup bidang jasa dan usaha mandiri, seperti barista, perhotelan hingga tata rias pengantin. Dengan keterampilan tersebut, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk bekerja di perusahaan, tetapi juga memiliki peluang membuka usaha sendiri.
Diky mengatakan, lulusan pelatihan vokasi memiliki bekal kompetensi dan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk meningkatkan daya saing saat memasuki pasar kerja.
"Rata-rata lulusan vokasi kita terserap pasar kerja, apalagi mereka dibekali sertifikasi BNSP," ujarnya.
Selain meningkatkan kualitas tenaga kerja, Pemprov Kepri juga mendorong pemerataan investasi di seluruh kabupaten dan kota agar semakin banyak lapangan pekerjaan tersedia.
Menurut Diky, Batam masih menjadi tujuan utama investasi dalam dan luar negeri. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, sejumlah perusahaan asing direncanakan masuk ke Kepri dengan investasi di sektor pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
"Ini juga menjadi pekerjaan rumah kita untuk menyiapkan tenaga kerja lokal yang kompeten agar bisa terserap maksimal oleh perusahaan-perusahaan besar yang masuk ke Kepri," katanya. (Ant/red)