• Thu, May 2026

Dolar Melonjak, Harga Obat di RSUD Bengkalis Naik 12 Persen

Dolar Melonjak, Harga Obat di RSUD Bengkalis Naik 12 Persen

Kepala Ruangan Farmasi RSUD Bengkalis, Dolphin, dan Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSUD Bengkalis, Freddy Antoni. (Foto : rri)


BENGKALIS, SERANTAU MEDIA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada kenaikan harga obat-obatan di Rumah Sakit Umum Daerah Bengkalis.

Kepala Ruangan Farmasi RSUD Bengkalis, Dolphin, mengatakan kenaikan harga obat terjadi dalam hampir dua bulan terakhir akibat tingginya ketergantungan bahan baku impor dalam industri farmasi nasional.

“Rata-rata bahan baku obat berasal dari luar negeri, sehingga pelemahan rupiah terhadap dolar sangat mempengaruhi harga obat-obatan saat ini,” kata Dolphin, Rabu (20/5/2026).

Ia menyebutkan sekitar 80 persen obat yang tersedia di instalasi farmasi RSUD Bengkalis mengalami kenaikan harga.

Menurutnya, rata-rata kenaikan harga obat mencapai sekitar 12 persen dibandingkan sebelumnya.

“Kenaikan harga obat-obatan ini berkisar sekitar 12 persen dari harga sebelumnya,” ujarnya.

Dolphin mengatakan kenaikan harga berpotensi terus berlanjut apabila nilai tukar dolar kembali menguat karena sebagian besar bahan baku obat masih diimpor dari luar negeri.

Meski demikian, RSUD Bengkalis memastikan stok obat tetap aman dan pengadaan obat terus dilakukan sesuai kebutuhan pelayanan pasien.

Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSUD Bengkalis, Freddy Antoni, mengatakan rumah sakit tidak akan mengurangi pembelian obat meskipun biaya pengadaan meningkat.

“Pemesanan obat tetap kami lakukan sesuai kebutuhan. Tidak mungkin dilakukan pembatasan atau pengurangan karena pasien tetap membutuhkan obat-obatan tersebut,” kata Freddy.

Ia mengakui kenaikan harga obat berdampak langsung terhadap meningkatnya pengeluaran rumah sakit. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pihak rumah sakit melakukan negosiasi dengan perusahaan pemasok obat terkait mekanisme pembayaran.

“Kami melakukan penyesuaian pola pembayaran melalui negosiasi dengan supplier agar kebutuhan obat tetap terpenuhi,” ujarnya.

Freddy menegaskan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama sehingga pengurangan pengadaan obat bukan menjadi pilihan rumah sakit. (rri/red)