SUDAH 65 hari Risky Zulfitrah meninggalkan rumah demi memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Di tengah panas, asap, dan ancaman api yang bisa berubah arah sewaktu-waktu, ada satu hal yang terus terbayang di benaknya: senyum sang istri, Riska Mala Dewi.
Setelah lebih dari dua bulan berjauhan, Risky hanya ingin segera pulang. Ia ingin memeluk istrinya, menatap senyumnya, sekaligus meminta maaf karena harus meninggalkannya begitu lama demi tugas.
“Rasanya berat ketika meninggalkan istri di rumah sendirian,” kata pria 29 tahun itu.
Risky dan Riska, 28 tahun, tinggal di Desa Tualang, Kecamatan Tualang, Perawang. Belum dikaruniai anak, pasangan ini harus terbiasa menjalani hari-hari terpisah setiap kali Risky mendapat penugasan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hampir sepuluh tahun Risky bekerja sebagai petugas pemadam karhutla di PT Arara Abadi, unit usaha APP Group. Selama itu pula ia akrab dengan api yang membesar, panas menyengat, asap tebal, dan angin kencang. Namun, ada satu pengalaman yang hingga kini sulit dilupakannya: saat api tiba-tiba berbalik mengejar timnya.
Saat api berbalik mengejar
Peristiwa itu terjadi ketika Risky bertugas di Distrik Kuala Lumpur, Sumatera Selatan. Bersama rekan-rekannya, ia berupaya memadamkan bagian depan kebakaran atau yang dikenal sebagai kepala api.
Tim bergerak mengikuti arah kobaran untuk mengendalikan api. Namun, situasi berubah dalam sekejap. Angin mendadak berbalik arah. Api yang semula mereka kejar justru bergerak menuju posisi tim.
Beberapa selang pemadam ikut terbakar. Jarak pandang semakin terbatas dan jalur menuju tempat aman atau safety zone tidak lagi terlihat jelas.
Di tengah kepungan api, Risky mulai membayangkan keluarganya di rumah. Ketakutan muncul ketika ia menyadari bahwa keselamatan dirinya dan rekan-rekannya sedang terancam.
“Pada saat itulah saya teringat keluarga dan timbul rasa takut bahwa saya tidak akan selamat karena api mengejar kami dan jarak pandang kami terbatas,” tuturnya.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa pekerjaan memadamkan karhutla bukan sekadar berhadapan dengan kobaran api. Setiap perubahan angin bisa mengubah keadaan dan mengancam keselamatan petugas.
Meski menghadapi risiko dan kelelahan, Risky tetap bertahan. Bukan semata karena tanggung jawab pekerjaan, tetapi juga karena dukungan orang-orang yang menunggunya di rumah.
“Yang membuat saya bertahan itu karena semangat yang diberikan keluarga dan istri,” ujarnya.
Rindu yang dibagi di tenda
Jauh dari rumah, Risky tidak menjalani penugasan sendirian. Ada rekan-rekan sesama petugas yang menjadi teman berbagi lelah, takut, dan rindu.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika berkumpul di tenda bersama petugas dari berbagai daerah, seperti Kalimantan Barat, Jambi, Palembang, dan Riau.
Di tempat sederhana itu, mereka saling bercerita tentang keluarga yang ditinggalkan. Ada yang merindukan istri dan anak, ada pula yang mencemaskan keselamatan diri selama bertugas. Mereka datang dari daerah berbeda, tetapi memiliki pengalaman yang sama: meninggalkan rumah demi memadamkan api.
“Kami sesama anggota RPK meninggalkan keluarga berbulan-bulan dan tidak tahu apakah bisa pulang dengan selamat atau tidak,” katanya.
Kebersamaan tersebut menjadi penguat. Mereka saling memahami karena sama-sama merasakan beratnya berjauhan dari keluarga sekaligus menghadapi bahaya di lokasi kebakaran.
Sementara Risky berbagi cerita dengan rekan-rekannya di tenda, Riska menjalani penantian di rumah. Setiap kali suaminya berangkat bertugas, rasa khawatir selalu menyertainya.
Terlebih ketika Risky sulit dihubungi. Pikiran Riska dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia takut sesuatu terjadi kepada suaminya di tengah pekerjaan yang penuh risiko itu.
“Perasaan saya campur aduk, takut suami saya kenapa-kenapa,” ujar Riska.
Penugasan panjang juga membuat Risky beberapa kali melewatkan momen penting bersama keluarga. Idulfitri dan Iduladha pernah dilalui Riska tanpa kehadiran suaminya.
Karena itu, kepulangan Risky dalam keadaan selamat selalu menjadi kebahagiaan tersendiri. Rasa lega bercampur haru setiap kali ia kembali melihat suaminya di rumah.
“Hati saya bahagia melihat suami saya akhirnya pulang ke rumah dengan selamat,” katanya.
Doa orang tua mengiringi langkah
Bukan hanya Riska yang diliputi kecemasan. Orang tua Risky, Ajran (56) dan Ernawaty (55), juga selalu menunggu kabar anak mereka selama bertugas.
Mereka takut terjadi sesuatu kepada Risky, terutama ketika ia tidak pulang selama berbulan-bulan atau sulit dihubungi. Ketika keluarga berkumpul, ketidakhadiran Risky membuat suasana terasa kurang lengkap.
Sebelum anaknya berangkat, Ajran dan Ernawaty selalu berpesan agar Risky berhati-hati. Mereka mengingatkannya untuk tidak ceroboh saat bekerja, tidak meninggalkan salat, dan selalu berdoa ketika memasuki kawasan hutan.
Harapan mereka sederhana: Risky tetap sehat, selamat, dan mendapat rezeki dari pekerjaannya. Mereka juga merasa iba ketika melihat anaknya pulang dalam keadaan lelah setelah menjalani penugasan panjang.
Di tengah semua risiko yang dihadapi, pesan keluarga menjadi pengingat bagi Risky bahwa ada orang-orang yang menunggu kepulangannya.
Kini, di balik tugasnya menghadapi kobaran api, Risky menyimpan kerinduan yang sederhana. Ia ingin kembali ke rumah, memeluk Riska, melihat senyumnya, dan meminta maaf karena telah lama meninggalkannya.
Riska pun tak meminta banyak. Ia hanya berharap suaminya tidak terlalu lama berjauhan, selalu menjaga kesehatan, dan mengingat bahaya di lokasi kebakaran.
Sebab, bagi Riska dan keluarga, keberhasilan Risky bukan hanya ketika api berhasil dipadamkan. Lebih dari itu, ketika tugas selesai, ia harus kembali ke rumah dengan selamat.
“Pokoknya, pulang ke rumah dengan selamat,” pesan Riska.***